6 Destinasi yang Wajib Dikunjungi di Sinjai, Sulawesi Selatan

 

1. Taman Hutan Rakyat (TAHURA) Abdul Latief

Tahura ini merupakan salah satu dataran tinggi terbaik di Sinjai. Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan. Saat matahari cerah, keindahannya sangat memukau. Dataran tinggi ini menjadi favorit untuk spot foto di ketinggian, sekadar relaksasi, hingga berkemah. Tentunya dengan menaati aturan yang berlaku. Negeri di atas awannya Sinjai ini berlokasi di Desa Batu Belerang, Kecamatan Sinjai Borong. Untuk menjangkaunya Anda bisa menggunakan kendaraan roda dua dan empat sejauh 30 kilometer dari ibu kota kabupaten, dengan waktu tempuh sekitar satu jam. “Konsep ke depan kita akan buat itu sebagai ekowisata, bekerja sama dengan SKPD pertanian. Supaya tak hanya pemandangan dan suasana, tapi wisatawan juga bisa memanen buah-buahan untuk dinikmati di sana langsung,” ujar Yuhadi.

 

2. Taman Purbakala Batu Pake Gojeng
Terletak di Kecamatan Sinjai Utara, 2 kilometer dari pusat Kota Sinjai. Pada jaman pemerintahan Jepang, lokasi ini dijadikan sebagai markas pertahanan Jepang dan pengintai kapal laut yang melintas di TelukĀ  Bone maupun pesawat terbang sekutu. Di dalam kawasan wisata itu terdapat kuburan batu serta ditemukan berbagai jenis benda cagar alam budaya seperti, fosil kayu dan peti mayat serta keramik yang diperkiran berasal dari zaman Dinasty Ming.
Diatas perbukitan ini, terlihat pemandangan Kota Sinjai secara utuh serta wilayah Pulau Sembilan di Teluk Bone.
3. Pemukiman Adat Karampuang
Merupakan kawasan adat yang terletak dikampung Tradisional Karampuang, Desa Tompobulu Kecamatan Bulupoddo, berjarak sekitar 40km dari pusat Kota Sinjai. Didalam kawasan adat anda bisa menjumpai dua buah rumah adat tradisional berusia ratusan tahun, gua cucukan yang berisi batu, dolmen kuburan-kuburan dari masa silam dan sebuah sumur kuno yang besar.
Rumah Adat Karampuang sendiri telah berpindah 3 kali, semula hanya gubuk bertiang satu dipuncak Gunung Karampuang. Gubuk itu kemudian bergeser sekitar 500 meter kearah kaki gunung (dikenal dengan nama Toanja) menjadi rumah bertiang tiga.

Dan terakhir yakni di Mallenreng sekaligus dikembangkan menjadi 2 buah (sehingga populer disebut Rumah Kembar). Sekarang Rumah Adat Karampuang dihuni oleh tetua adat yang bergelar Tomatoa dan Ke Manynyaha.

Waktu terbaik berkunjung ke sini ialah saat perayaan Mapigausihanuah, yang merupakan syukuran adat Karampuang. Perayaan tersebut jatuh sekitar bulan Oktober akhir hingga November tiap tahunnya.

 

4. Benteng Balangnipa
Benteng Balanipa, Kabupaten Sinjai (utara). Lokasi Benteng ini berjarak 220,5 km dari kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan. Benteng ini di dirikan oleh salah satu aliansi dari kerajaan Lamatti, Bulo-Bulo dan Tondong yang lasim di sebut kerajaan TELLU LIMPOE. Benteng ini untuk melindungi kerajaan Tellu Limpoe yang rapu pada saat itu karena pertarungan yang sangat hebat antara kerajaan Gowa yang di mulai pada masa pemerintahan Raja Gowa ke 9 Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapparisi Kallongna,dengan kerajaan kerajaan sekitarnya. Fungsi benteng ini dulunya sebagai pusat penumpasaan dan penahanan perampok yang berhasil ditangkap atas permintaan Kerajaan Bone.
Bangunan benteng dengan arsitektur khas Eropa awal abad 19 ini masih berdiri kokoh, dan dimanfaatkan sebagai kantor Dinas Pariwisata. Bangunan ini berdinding tebal dan memiliki ruang-ruang tahanan.
5. Hutan Bakau (Mangrove) Tongke-Tongke
Terletak di desa Tongke-Tongke Kec. Sinjai Timur sekitar 7 km dari pusat kota Sinjai. Hutan bakau (mangrove) di Tongke-Tongke dalam perkembangannya telah menjadi obyek wisata yang ramai dan diminati, baik oleh wisatawan nusantara maupun mencanegara, terutama sekali oleh para ilmuan yang gemar melakukan penelitian. Desa Tongke-Tongke dengan kekayaan hutan bakaunya dijuluki sebagai laboratorium bakau Sulawesi Selatan. Pengembangan hutan bakau yang berlokasi pada pesisir sebelah timur kota Sinjai tersebut memiliki luas kurang lebih 786 ha, yang dikembangkan melalui swadaya masyarakat murni. Berkunjung di hutan bakau Tongke-Tongke berarti juga akan dihibur oleh aneka jenis bebunyian dan pekikan satwa dipagi hari dan kepakan sayap ribuan kelelawar, yang bergantungan di atas pepohonan bakau pada siang hari.
Keindahan yang terbentang merupakan ekosistem alamnya yang masih sangat terjaga, juga rangkaian bakaunya membentuk lorong-lorong gua sehingga disebut gua hidup. Anda bisa menyusurinya menggunakan speed boat dan juga bisa berjalan kaki diatas mangrove track yang sudah tertata rapi. Jangan lupa untuk ikut menanam bakau disini sebagai tanda kepedulian wisatawan.
6. Pulau Larea-Rea
Kecamatan Pulau Sembilan. Siapa yang tidak mengenalnya. Gugusan pulau di Kabupaten Sinjai ini adalah salah satu yang terindah di Sulawesi Selatan. Dari sembilan pulau ini, terdapat satu pulau yang tidak berpenghuni, Pulau Larea-rea.

Diameter daratan di Pulau Larea-rea hanya sekira 10 meter. Dengan luas ini, hanya bisa menampung satu unit rumah panggung. Meski tidak berpenghuni, namun bukan berarti Pulau Larea-Rea tidak memesona.

Faktanya sejak sebulan terakhir, ratusan bahkan ribuan orang dari berbagai tempat, datang untuk sekadar melewatkan akhir pekan di tempat ini. Ada yang berendam di airnya yang jernih, bermain di atas pasir putihnya yang bersih, hingga berfoto selfie dan groufie dengan latar belakang gugusan pulau sembilan. Untuk spot terbaik, Pulau Larea-rea patut direkomendasikan. Akses ke pulau ini sangatlah mudah. Di pelabuhan ujung, Kel. Lappa, banyak tersedia perahu sewaan. Tarifnya bervariasi, antara Rp200 ribu, hingga Rp400 ribu. Hanya butuh waktu tempuh selama 1 jam untuk perahu kayu, dan 15 menit dengan speed boat atau perahu cepat, untuk sampai di Pulau Larea-rea.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *